pojok SARU











{Februari 10, 2007}   Losmen

Kami sekeluarga baru saja pindah ke Kota Banjarmasin saat umurku 12 tahun. Rumah kami berada didekat pasar besar yang selalu ramai dan macet terutama saat pagi dan sore saat bongkar muat barang dan ibu-ibu belanja. Sebagai pasar terbesar, disinilah semua pedagang besar dan kecil dari seluruh Kalimantan bertemu dan berbisnis. Kebutuhan akan penginapan memberikan peluang tumbuhnya rumah penginapan. Salah satunya losmen sederhana diujung jalan dekat rumahku.

Sore itu aku mendapat teman baru, anak pemilik losmen yang rumahnya tepat disebelah rumahku. Asik juga, baru sehari pindah sudah dapat teman baru. Usianya sepantar denganku, hanya tubuhnya lebih tinggi dan lebih hitam dariku. Orang pasti menyangka pasti ia sudah sekolah di SMP. Belakangan setelah aku mulai masuk sekolah, ternyata teman baruku yang namanya Ujang tersebut tidak satu SD denganku. Sayang juga sih nggak bisa berangkat bareng. Padahal Ujang anaknya kocak, berisik dan royal!

Seminggu setelah kepindahanku,aku diajak olehnya ke Losmen Melati milik orangtuanya. Orang tuanya ternyata memiliki beberapa losmen di beberapa kabupaten di Kal-Sel dan Kal-Teng. Karenanya kadang bapak ibunya sering bepergian untuk mengontrol losmen-losmennya yang banyak berterbaran tersebut. Losmen Melati diujung jalan tersebut lebih bayak dipercayakan pada om-nya untuk mengelolanya.

Hari itu, hari Sabtu sore. Losmen tampak sepi dan tidak banyak tamu yang menginap kata Om Eko. Bangunannya terdiri dari 2 lantai. Sangat sederhana sehingga hanya kamar-kamar dilantai 2 yang memiliki kamar mandi didalam. Semua tamu dilantai dasar mesti mandi di kamar mandi umum yang letaknya berjajar di sebelah belakang. Sedang asik-asiknya mengamati kunonya bangunan, Ujang mengagetkanku dengan berbisik dari arah belakangku, “Nang !, ikut aku yuk! Kutunjukkan sesuatu yang indah padamu!” katanya. “Indah apaan Jang” kataku berusaha tahu. “Udahlah…, ikut aku aja ntar kamu juga tahu sendiri,” katanya lagi seraya menarik lenganku untuk mengikuti langkah kakinya. “Ssttt… tapi jangan berisik dan bicara yah” katanya lagi sambil terus melangkah tanpa menoleh kearahku.

Ternyata Ujang mengajak ku ke arah deretan kamar mandi. Pintu kedua dari pojok tertutup sedang semua pintu lainnya tampak terbuka, menandakan pintu yang tertutup tersebut sedang digunakan. Terdengar kecipak air menandakan seseorang sedang menggunakan gayung mandi dari arah dalam pintu kamar mandi yang tertutup tersebut. Dengan memberikan tanda menggunakan jarinya, Ujang mengajakku memasukki kamar mandi disebelahnya, yang dipojok dan menutup pintu kamar mandi dengan hati-hati tanpa bersuara. Selanjutnya dengan cekatan dia membuka penutup lubang kecil pada dinding kamar mandi. Dinding kamar mandinya terbuat dari seng yang warnanya sudah memudar dengan penuh karat disana sini. Ternyata ada 2 lubang didinding seng tersebut, tanpa bicara dan masih menggunakan jarinya Ujang menunjuk satu lubang buatku. Dengan berdebar kuarahkan mataku pada lubang semit di dinding seng tersebut.

Apa yang kulihat? ternyata seorang gadis usia 23 an tahun sedang mandi disana! Dadaku berdetak sangat kencang memandang tubuhnya. Ini pengalaman pertamaku memandang tubuh perempuan tanpa baju. Badannya kuning bersih, seperti umumnya orang Banjar atau Kapuas (Kal Teng). Tingginya cuman 150 cm, langsing dengan rambut sebahu. Kala itu posisinya membelakangiku karena sedang mengambil meletakkan odol dan sikat gigi. Rupanya baru saja menyikat giginya. Saat gadis itu berbalik dan mengambil gayung mandi, aku tersekat melihat dadanya yang menurutku tidak normal untuk ukuran badannya. Terlalu besar! Kira-kira seukuran gayung mandi, bahkan mungkin lebih. Aku menahan nafas melihatnya. Putingnya berwarna merah (atau pink?) kontras dengan warna kuning tubuhnya. Bergantung didada yang menurutku waktu itu indah sekali. Saat melihat kebawah, dibawah perut kulihat bulu-bulu keriting hitam mengitari pertemuan kedua paha. Saat itu aku belum mengerti kalau itu bulu vagina, jadi bukan menjadi prioritas pertamaku untuk dilihat.

Dengan gayung ditangan gadis tersebut membasahi tubuhnya dengan air dan mandi dengan nikmatnya. Sekarang arahnya menyamping sehingga aku hanya bisa melihat samping susu (payudara) nya yang mengantung dan bergerak kekiri kekanan tiapkali ia menggerakkan gayung mandi. Sesaat kemudian diambilnya payung dan mulai menyabuni dirinya. Entah mengapa sekarang arah posisinya tepat menghadap ke arahku. Diambilnya sedikit sabun dan mulai menyabuni susunya… diusap. diputar dan digosonya seluruh permukaan susunya yang besar tersebu. Busa kecil memenuhi susunya disana sini. Kemudian perlahan dia mengusap dan memijit (menurutku sih memeras) susunya perlahan dan kadang mencengkram keras. Kadang satu tangan lainnya ke arah bawah, keselangkangannya. Aku nggak perhatikan tangannya yg ini (belakangan akhirnya aku tahu maksudnya) dan arah pangdanganku tetapkearah susunya yang besar dan diusap dan dibelainya dengan lunak. Kadang puting susunya di tarik dan diplintir yang menurutku jadi bikin putingnya makin berwarna merah. Wajahnya saat kulihat seperti orang yang sedang menahan beban dengan mata tertutup. Ah gak pusing kataku, yang penting aku mo lihat susunya tersebut. Gak terasa 5 menit lebih dia melakukan usapan dan pijatan pada susunya sampai akhirnya kemudian meneruskan menyabuni seluruh tubuhnya. Aku dah nggak konsen melihat lainnya, sibuk memirkan susu besarnya tersebut. Tarikan tangan Ujang menyadarkanku kemudian. Kemudian dia memberikan tanda mengajakku keluar dari kamar mandi itu.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: